Monday, February 15, 2010

Ya Allah, bless my mom...


Bismillahi walhamdulillahi 'alaa rasulillah...

Ya Allah,
bless my mom for always be so forgiving
even when I make mistakes,
she continues to give from what she has
and she always wants the best for me.
She sacrificed a lot
to give us food, shelter, and clothing,
and always sticking by us
even thogh we gave her a hard time
and its not easy raising children as a single parent.

Ya Allah,
bless my mom because she makes duaa for me
even if she is upset
knowing that her duaa will be answered.
(my siblings and I are given blessings from Him because of the duaa of our parents.).
she cares for me more than I care for myself,
and she does dua for me more than I do for myself.

Ya Allah,
bless my mom because she's always there for me,
whenever I upset her she forgives me
and never mentions it ever again.
she does so much and at the end of the day
she does not complain
which is true blessing from Allah.
she loves me unconditionally,
and she always cheers me up,
and taught me never to give up from an early age.

Ya Allah,
bless my mom for putting up with my behavior,
and the times I made her worry,
she taught me how to be tough,
and then how to be gentle at the same time,
because only mothers know how to do that well,
and she teaches by practice not by preaching,
and for supporting me in all trials and tribulations

Ya Allah,
bless my mom because of her soft heart.
she has been through many great fitnahs
and she still holds on to islam with strength and great patience.
She raised, taught and still gave me knowledge
even with all the fitnahs and difficulties in her life.

Ya Allah,
bless my mom for being generous to others,
and always tried to do the right thing,
she always wants the best for everyone,
she gave us the best she had,
she always thinks good of others,
she always loved her children and showed it,
and she is one of the reasons I aim so high

Ya Allah,
bless my mom because being a mother is the scariest job in the world
and I think she did pretty well with Your help, alhamdulillah.
and bless her because she married me to the most amazing man whom keep me safe(and still) in my deen, alhamdulillah:)

Ya Allah,
bless my mom because she loves You
and raised us to love You.
all praise due to You because she is the mother you chose for me
and please make it easy for me
to be as wonderful a mother as she is someday.

ps : May Allah SWT grant our mothers the highest Jannat and forgive us when we neglect them, ameen thumma ameen...

************************************************

On the authority of Abu Hurairah RA, who said, the Messenger of Allah (salallahu alaihi wa sallam) said: "A man will be raised some degrees in Paradise and he will say, 'For what reason am I receiving this?' He will be told, 'Because of your son asking forgiveness for you'"

Saturday, February 6, 2010

InshaAllah

Bismillahi walhamdulillahi 'alaa rasulillah,

“Bilamana Allah s.w.t. membuat makhluk liar terhadapmu (menyusahkan atau menyakitimu), maka ketahuilah Dia ingin membuka buatmu pintu berjinak-jinak hanya denganNya”.

Siapa yang mendakwa hidup ini sentiasa menggembirakannya setiap detik bererti telah dusta dalam dakwaannya. Tiada siapa yang tidak pernah merasa susah, sedih, kecewa dan derita khususnya dalam menghadapi makhluk di sekelilingnya.

Boleh jadi orang yang paling diharapkan di sisi kita itulah orang yang telah mengkhianati kita selama ini. Boleh jadi orang yang paling dikasihi itulah sebenarnya paling membenci. Boleh jadi orang yang paling dekat jasadnya dengan kita itulah orang yang paling jauh hatinya dari kita. Teman yang selama ini paling dipercaya, mungkin esok menjadi musuh yang paling merbahaya.

Rumah yang baru dibeli dengan jaminan keselamatan dan kekukuhan untuk tempoh yang lama boleh jadi retak atau roboh sejurus kita mendudukinya. Kereta yang baru dibeli dengan harga yang tinggi itu mungkin juga kereta yang dinaiki menuju musibah. Kawasan yang dijamin selamat dari gempa bumi namun mungkin dibinasakan oleh banjir yang besar. Beginilah makhluk.

Makhluk tidak menentu. Apa yang dari mereka tiada yang pasti. Apa yang dicari dari mereka akan pergi. Apa yang diingini dari mereka tidak pernah kekal abadi.

Ketika menyedari kenyataan “tidak menentu”nya makhluk. Kita hayati hakikat ini setiap kali berinteraksi dengan sekeliling, samada dari kalangan manusia atau alam. Sama sahaja. Semuanya digerakkan oleh Tuhan yang menentukan segalanya dengan kebijaksanaan. Namun, kita yang lalai. Kita rela dibelenggu “rutin” harian daripada melihat interaksi Allah s.w.t. di sebalik setiap pergerakan makhluk.

Oleh sebab itulah, Imam Ibn ‘Atho’illah As-Sakandari menyebutkan bahawa, bilamana Allah s.w.t. membuatkan alam dan makhluk ini serba merungsingkanmu, ianya sebenarnya adalah suatu panggilan agar kamu mencari ketenangan hanya pada kebersamaan denganNya. Bilamana Allah s.w.t. memberi musibah, Dia ingin kamu kembali kepadaNya dengan penuh pasrah dan berserah. Bilamana Allah s.w.t. memberimu ujian, Dia ingin kamu mencariNya untuk meminta bantuan. Bilamana Dia memberimu kesempitan, Dia ingin kamu kembali kepadaNya untuk mencari kelapangan.

Hanya kepada Dia, kamu perlu kembali. Hanya kerana Dia, kamu perlu kembali. Hanya kerana Dia, kamu perlu kembali kepadaNya. Bukan kerana selainNya. Ini kerana, seluruh selainNya adalah khayalan yang sentiasa menghimpit. Makin kamu renggangkan antara keduanya untuk mencari kelapangan dalam makhluk, makin kuat kamu akan dihimpit.

Kalau Allah s.w.t. menyayangi seseorang, Dia akan memahamkan hakikat “seruan kepulangan” ini dalam dirinya di sebalik setiap musibah melanda. Alam adalah interaksi Allah s.w.t. dengan para hambaNya. Namun, kebanyakan mereka lalai dari memahaminya kerana tidak pernah menghadirkan Allah s.w.t. dalam hati mereka.

Kamu perlu sedar hakikat ini. Allah s.w.t. tidak pernah menyusahkanmu, kerana bukan itu tujuan kamu diciptakan. Allah s.w.t. sengaja menyempitkan makhluk agar kita mencari kelapangan pada kebersamaan denganNya. Hanya denganNya. Fahamilah isyarat ini duhai teman, lalu anda akan dapat melihat kebersamaan Tuhan.

sumber : Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaluddin Al Azhari

InshaAllah - Maher Zain

Everytime you feel like you cannot go on
You feel so lost
That your so alone
All you is see is night
And darkness all around
You feel so helpless
You cant see which way to go
Dont despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side

Insha Allah
Insha Allah
Insha Allah
Insya Allah youll find your way

Everytime you commit one more mistake
You feel you cant repent
And that its way too late
Yourre so confused, wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of shame

Dont despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side

Insha Allah
Insha Allah
Insha Allah
Insya Allah youll find your way

Insha Allah
Insha Allah
Insha Allah
Insya Allah youll find your way

Turn to Allah
Hes never far away
Put your trust in Him
Raise your hands and pray
OOO Ya Allah
Guide my steps dont let me go astray
Youre the only one that showed me the way,
Showed me the way
Showed me the way

Insha Allah
Insha Allah
Insha Allah
Insya Allah well find the way



ps: i want to dedicate this song to my beloved cousin, Hamidah Abdullah and my best friend, Melissa Hassim. God knows what is best for us, inshaAllah :)




Monday, February 1, 2010

Tugas Kita, Bukan Sekolah....

with muhammad ikhwan bin lokman. a.k.a. ah seng :)

Bismillahi walhamdulilahi 'alaa rasulillah

"Di tangan orangtualah anak-anak tumbuh dan menemukan jalan-jalannya. Ajari kebaikan dan pilihkan sekolah agama yang baik"

Jumat malam, menjelang penutupan tahun 2009, seorang teman mengadu. Ia begitu kecewa dengan sekolah tempat anaknya belajar. “Saya sudah bayar mahal-mahal, hasilnya cuma segitu,“ ujar pria, sebut saja namanya Ilham (35). Pekerja super sibuk ini tentu punya asalan mengapa ia begitu marah. Menurutnya, ia sudah memilih sekolah yang tepat, gedung megah, fasilitas lengkap, dan teman-teman terhormat. Semuanya sudah ada. Berkualitas. Kurang apa lagi?

Tapi nampaknya ia kecele. Setelah beberapa tahun perjalanan perkembangan sang anak, ia tak menemui sikap dan tindakan sang buah hati seperti yang diharapkannya. Ia mengaku, anaknya punya nilai akademik di atas rata-rata. Hanya kesopan dan akidahnya di bawah rata-rata.

Ilham adalah seorang manager sebuah perusahaan besar dengan gaji lumayan. Demi masa depan anaknya, ia bekerja banting-tulang dan pulang malam. Hanya sedikit waktu bertemu dengan buah hatinya. Hari panjangnya bertemu anak dan keluarganya hanya hari Ahad. Setiap hari, jika ia datang, ditemui anaknya sudah terlelap. Meski tak banyak waktu yang ia contohkan tentang kehidupan pada buah hatinya, ia tetap berharap, anaknya bisa menjadi anak yang baik. “Masa lalu saya cukup buruk dan tidak mengerti agama, jangan sampai anak saya ikut seperti saya, “ tambahnya.

Tauladan

Anak merupakan amanah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena amanah, maka kelak Dia akan meminta pertanggungjawaban kepada kita atas amanah tersebut.

Jika anak-anak tumbuh menjadi shalih dan shalihah, tentu akan membawa keuntungan dunia dan akhirat bagi orangtuanya. Sebaliknya, jika orangtua lalai dalam mengajar dan mendidik, keberadaannya akan membawa bencana dunia dan akhirat. Banyak orangtua percaya, uang bisa “menyulap” akhlak anak. Mereka memposisikan sekolah seperti pabrik atau penitipan sepeda. Padahal seorang anak adalah manusia. Sering pula orangtua menyangka, nilai akademis selalu sejajar dengan perilaku baik dan akidah yang lurus. Banyak kasus di negeri ini orang-orang bertindah ceroboh, melakukan korupsi dan melakukan kejahatan bahkan dari orang-orang terdidik dan pandai.

Para orangtua menilai dengan menitipkan seorang anak di lembaga pendidikan, semuanya selesai. Sementara di rumah, apa yang anak dapat tak sama dengan nilai-nilai yang diajarkan di sekolahnya. Tak ada keteladanan yang diperolah dari anak menyebabkan mereka bimbang terhadap nilai-nilai. Di sekolah ia diajarkan kebaikan, dilarang berbuat kasar, memaki, berbuat sopan, sementara di rumahnya ibu-bapaknya setiap hari berlaku kasar dan tak mencontohkan nilai-nilai kebaikan.

Lembaga pendidikan hanya institusi menjalankan proses pendidikan dan mengenalkan nilai. Anak hanya mampir sesaat di sekolah. Hari-hari panjang justru berada di rumah. Di sinilah tugas para orangtua mengawal apa yang telah diperoleh di sekolah. Itulah sinergi terbaik antara sekolah dan orangtua. Yang terjadi sering sebaliknya. Para orangtua sering menyalahkan sekolah, padahal kesalahan ada pada orangtua.

Sesungguhnya tugas pendidikan ada pada keluarga dan sekolah. Namun pertanggujawabannya di akhirat, di hadapan Allah SWT tetap para orangtua.

Terkait dengan mendidik anak, di Islam memberikan tuntunan sangat baik. Di bawah beberapa tip dan tuntunan ajaran Islam:

Tanamkan Akidah yang Benar

Ini hal yang sangat penting. Jika anak-anak memiliki akidah yang benar, maka itu lahan subur bagi tumbuhnya kebaikan-kebaikan. Tidak ada kebaikan pada diri anak yang akidahnya melenceng. Penanaman akidah harus dimulai dari orangtua, dari rumah. Tunjukkanlah akidah yang lurus. Jika kita tak memiliki semua itu, setidaknya, pilihkanlah mereka sekolah-sekolah yang baik, di mana Islam menjadi bagian utama dari dasar pijakannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anak, aku akan ajarkan padamu beberapa kalimat: Jagalah Allah pasti engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa jika seluruh umat berkumpul untuk menolongmu, mereka tidak bisa menolongmu dengan sesuatu kecuali atas hal yang telah Allah takdirkan. Ketahuilah bahwa jika seluruh umat berkumpul untuk mencelakaimu, mereka tidak bisa mencelakaimu dengan sesuatu kecuali atas yang telah Allah takdirkan, pena-pena telah diangkat dan catatan-catatan telah kering.”
(Riwayat Ahmad dan Tirmidzi)

Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, peliharalah diri-diri kamu dan keluargamu dari api neraka.” [QS: At Tahrim ayat 6]


Memohon Pahala

Rasulullah bersabda, “Jika seseorang menafkahkan hartanya kepada keluarganya dengan mengharap pahala, maka baginya adalah pahala sedekah.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Mas’ud)


Ingatkan Shalat

Shalat merupakan kewajiban paling utama seorang hamba terhadap Allah. Rasulullah menegaskan, “Perintahkan anakmu untuk shalat saat usia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika meninggalkan shalat) saat usia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”
(Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Hakim, Baihaqi, dan lain-lain)


Menuntun Berakhlak Baik

Mustahil mengajarkan kebaikan jika yang dilihat anak di rumah setiap jam, setiap hari justru keburukan. Di tangan orangtualah anak-anak tumbuh dan menemukan jalan-jalannya. Jika yang dilihat setiap saat buah keburukan, di masa datang, orangtua akan panen keburukan. Begitu pula sebaliknya.

Membiasakan praktik-praktik sunnah dalam kehidupan keseharian. Misalnya makan dengan membaca "Bismillah" dan membiasakan berdoa, mengakhirinya dengan "Alhamdulillah", masuk/keluar rumah dengan “Salam”, dll. Menghapalkan doa-doa sejak sedini mungkin memberikan pengaruh besar dalam perkembangan kejiwaan anak.

Mulailai kebaikan dari diri sendiri sebelum mengajarkan pada anak-anak kita. Sekecil apapun.

Umar bin Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu saat masih kecil dalam asuhan Rasulullah, tangannya ke sana ke mari di atas makanan. Dia bersabda, “Wahai anak, bacalah ‘Bismillah’, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat darimu.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abu Salamah)


Tanamkan kepada mereka akhlak-akhlak mulia. Ajari berkata dan bersikap jujur, berbakti kepada orangtua, dermawan, menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda, serta beragam akhlak lainnya.

Melarang mereka dalam perbuatan yang diharamkan. Ajarkan sejak sedini mungkin beragam perbuatan yang tidak baik atau bahkan diharamkan. Tidak merokok, berjudi, minum khamr, mencuri, mengambil hak orang lain, zhalim, durhaka kepada orangtua, dan segenap perbuatan haram lainnya.

Memisahkan Tempat Tidur

Memasuki usia sepuluh tahun, pisahkanlah tempat tidurnya. Anak-anak pada usia ini sudah terhitung dewasa dan mendekati masa baligh (puber), gairahnya mulai muncul, maka memisahkan tidur mereka akan mencegah petaka yang tidak diinginkan. Rasulullah bersabda,
“…pisahkanlah tempat tidur mereka.”
(Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim, Baihaqi, dan lain-lain)


Berbuat Adil

Tidak bijak bila membeda-bedakan anak dalam berinteraksi dan menafkahi. Perlakuan pilih kasih kerap membawa permusuhan di antara saudara. Hal itu merupakan bentuk kezhaliman terhadap anak.

Rasulullah bersabda, ”Aku tidak akan bersaksi atas suatu kejahatan, takutlah kamu kepada Allah dan berbuat adillah kepada anak-anakmu.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir)


Lemah Lembut, Bermain, dan Mencium

Rasulullah tidak segan mengajak anak-anak untuk bermain, berlaku lemah lembut, serta mendekati dan mencium mereka. Simaklah bagaimana cara Rasulullah memanggil mereka, “Wahai anakku.” Hindari cacian, cibiran, perbanyak pujian.

Tegas Saat Diperlukan

Anak yang tidak pernah mendapat hukuman (saat diperlukan) akan mempunyai tabiat yang kurang bagus. Hendaklah orangtua bisa menunjukkan kepada anak-anak dan keluarganya bahwa dia adalah orang yang tegas dan keras saat kondisi mengharuskan itu.

Rasulullah pernah bersabda, “…pukullah mereka (jika meninggalkan shalat) saat usia sepuluh tahun.”
(Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi).

Juga, “Gantunglah cambuk di tempat yang bisa dilihat oleh anggota keluargamu, karena hal itu akan menjadi sebuah pelajaran.” (Riwayat Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad)


Selain yang terurai di atas, hendaknya para orangtua tampil menjadi teladan bagi buah hatinya, lalu mengajari ilmu yang membawa kemanfaatan dunia dan akhirat, serta tidak mendoakan yang buruk kepada mereka (anak-anak).

Pertanggujawaban

Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban.” Mudah-mudahan kita semua selamat di dunia dan di akhirat untuk mengantarkan anak-anak kita ketika kelak dihadapkan pada mahkamah Allah.

semoga bermanafaat, wallahu 'aalam bissawab

sumber : forwarded email from hidayatullah.com

Saturday, January 30, 2010

SNAP VIA MIRROR CONTEST


Bismillahi walhamdulillahi 'alaa rasulillah ..

terjumpa mengenai entry ni di blog ukhtie khairunissa bt saad :

SNAP VIA MIRROR CONTEST

err..sound interesting since saya ni minat bab menggambar nih..gambar ni saya ambik masa baru lepas kawen dan time tu pulak kena duk jauh dari suami sebab proses menguruskan visa sedang berlangsung..huhu..sudahnya takdop kerja..maka abis la litip mak saya saya tenyeh kat cermin..(mak saya tak baca blog..hahah..:P) sebab saya tak suka menenyeh litip kat bibir..huhu..


untuk penganjur kontes ni..err..saya mencadangkan supaya blog anda :

  • background tu tukau le kaler yang suci sikit..(easy on eyes gitu) ni nak carik button follower pun konpius sebab banyak nau benda lip lap kat situ..kesian tau warga tua cam ...hehe
  • tulisan plak pun kena kasi besar skit..terutama kat blog butik tu sebab kastemer cam saya ni kan..alahai..lens mata tak sampai 1 megapiksel nak oii...hehe..
  • widget tu susun elok2 la skit sebab banyak nau..hehe..kalau kurangkan sikit pun takpe..macam blog yang di follow tu buat dalam bentuk tab menu..supaya tak menyemak sangat di situ..hehe..
errr..nak 2 je kan..aku bagi 3..kalau nak lapanblas lagi karang le ye..hehhe..nasib baik ko buat contest ni dik, ade gak modal aku nak update blog..hahaha

ps: details about the contest, here.

Friday, October 30, 2009

Happiness in Front of Your Eyes

Time comes and goes, life slips and goes forth, what is to come? No creation knows.

Sometimes, things Allah SWT takes it away, because in His infinite Wisdom it is something which is not good for you. However, what is to say that same thing is not good for you later in life? Time can go by, a jewel can accumulate dust, but with a blow of the mouth and a brush of the hands, it sparkles like new just as it was before. Allah may very well take you away from a danger or a calamity which may be bad for you at that time, but that same ‘danger’ or ‘calamity’ could be hope and goodness for you later in life.

The point is, it is in The Will of Allah the believer should find his or her rest, because it is the plan of Allah that prevails in the end.

وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِين

"And they planned, but Allah planned. And Allah is the best of planners"
[Suratu Al-Imran, verse 54]

At the same time, don’t give up hope due to past problems. Because, it could be that the past hope was not good for you but it is what shines a light for you in darkness today. You may come across people that you didn’t like before but now are your best of companions. It could be that the people and things which you have shunned away from before are the torch of light that will bring life to the heart and soul today.

اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُمالظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ

"Allah is the Protector of those who have faith: from the depths of darkness He will lead them forth into light…"
[Suratu Baqarah, verse 257]

True happiness is right in front of you but you need to take off your dirty glasses first to see the light which is present abundantly.

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“and it may be that you dislike a thing which is good for you and that you like a thing which is bad for you. Allah knows but you do not know.”
[Suratu Baqarah, verse 216)

Tuesday, October 27, 2009

Adakah anda seorang yang Berani?

Seorang yang berani, sentiasa bersedia melakukan sesuatu yang penting bagi kecemerlangan hidupnya,
meskipun dia belum berpengalaman
meskipun dia tidak memiliki wang untuk itu
meskipun banyak orang meragukan akan hasilnya
meskipun telah banyak orang gagal dalam upaya yang sama
meskipun sama sekali tidak ada jaminan
meskipun sebetulnya dia sangat ketakutan
dan meskipun lebih mungkin baginya untuk gagal.

Anda tidak bisa membina kehidupan yang luar biasa dengan keberanian yang biasa.
Kerana keberanian adalah sebuah kualiti yang boleh memaksimakan.

Jika anda berani, anda akan memaksimakan kebesaran dan ketinggian dari yang ingin anda capai.
Yang selain itu, adalah pembatasan kebebasan hati.

Jika anda berani, anda akan memaksimakan upaya anda untuk mencapai yang anda inginkan.
Yang selain itu, adalah pembatasan kesediaan bekerja.

Jika anda berani, anda akan memaksimakan tanggungjawab yang anda pikul.
Yang selain itu, adalah pembatasan potensi.

Jika anda berani, anda akan memaksimakan ukuran dan nilai dari sumbangan anda.
Yang selain itu, adalah pengkerdilan hak untuk menerima.

Jika anda berani, anda akan memaksimakan peranan yang anda minta dari Tuhan.
Yang selain itu, adalah pengecewaan tujuan hidup anda.

Wednesday, September 16, 2009

Remember the Sabra and Shatilla Tragedy on 16th September 1982

16hb September in History

If 16th September is the date to commemorate the formation of Malaysia, on the same date twenty years later, a tragedy has unfolded on the Palestinian people. On that infamous day in 1982, a grim massacre took place in the camps of Sabra and Shatila, in Lebanon.

The background

Sabra and Shatila

Sabra is a Lebanese residential area on the southern end of West Beirut. Shatila is a Palestinian refugee camp, run by UNRWA (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East). The refugee camp of Shatila has existed since 1949 in the aftermath of the creation of the illegitimate state of Israel in 1948. By 1949 more than 100,000 Palestinian took refuge in Lebanon including at Shatila.

Since Sabra and Shatila lie side by side, the close interactions between residents in these two poor areas eventually lend the name ‘Sabra and Shatila camp’.

Palestine Liberation Organisation (PLO)

PLO was formed in 1964. It is an umbrella organization that brought together a number of Palestinian resistance organizations including Fatah, the dominant group that controls PLO.

Al-Fatah (and PLO) had been under the leadership of the late Yasser Arafat . These organizations has agreed to join forces under PLO for a common goal i.e to liberate the whole of Palestine from the Zionist occupation.


In 1969, at a meeting in Cairo, the then Lebanese Prime Minister has given the permission for PLO to use Lebanon as a base to launch it’s operation against Israel. PLO grew in strength in Lebanon by the presence of many PLO fighters who were driven out from Jordan in the early 70’s. This situation did not only bring troubles to Israel but also lead to clashes with the local residence and militia groups including the Phalangists of the Maronite Christians.

From Southern Lebanon, PLO fighters launched continuous attack on Israel.

Israel attack Lebanon


To deal with the attack and threats on Israel from Southern Lebanon, especially from PLO, Israel launched a series of military operations. This culminated in the massive attack on Lebanon on 6th June 1982. Israel claimed the attack was in retaliation to a failed assassination attempt on its ambassador in London. It was estimated around 60,000 Israeli troops entered Lebanon even though the move recieved strong condemnation by the UN security council.


The main reason behind the attack was to remove the PLO from Lebanon. To meet this objective, Israel was aided by a number local militias including the Phalangists.


By June 18, Israeli troops had encircled beleagured PLO fighters in West Beirut. A major humanitarian crises awaited the PLO fighters and the local population if Israel decide to launch the final strike.


Ceasefire and Betrayal


Two months into the siege, in mid August 1982, through the mediation by Philip Habib, from the US government, a ceasefire agreement was concluded between Israel and the PLO.


Under the provisions of the “Habib Roadmap”, ordinary PLO fighters and their commanding officers agreed to lay down their arms and depart from Lebanon. They were also required to close down and cease all office operations and PLO infrastructures. The withdrawal process was to be monitored by an international force comprising of the Italian, the French and American forces. The international force was scheduled to stay over a 30 day period from their arrival. They were also responsible to ensure the safety of the inhabitants of Sabra and Shatila including the families left behind by the fighters. Israel on the other hand has agreed to stop its advance to Beirut.


The withdrawal of PLO fighters commenced on August 24th and completed by 1st September 1982. Two days later, Israel started to place its troops around the perimeters of the two camps. Shortly after, the international forces began to withdraw, much earlier than the scheduled timetable.


Massacre


On 11th September 1982, Ariel Sharon, Israeli Minister of Defense who orchestrated the attack on Lebanon made an announcement that there were 2,000 Palestinian terrorists hiding among the refugees in the camps around Beirut. On Wednesday, September 15th 1982, a day after the assassination of Bashir Gemayil, Lebanese President candidate, Israel troops entered Beirut and surrounded Sabra and Shatila. By midday, the whole area was besieged by Israeli tanks and soldiers. Military checkpoints were set up to monitor every movements in the camp. By the evening of the same day, they started shelling the two camps.


Around noon thursday 16th September 1982, a group of up to 150 Phalangists, Israel allies, moved into the camp area. Witnessed by the whole world, within the next 40 hours the Phalangist militias engaged in an orgy of rape and murder of unarmed civilians. Most victims were women, children and the elderly. They could not escape as every exit has been blocked by the Israeli army.


The killing spree continued until 18th Sepetember.


The death toll estimates varied from 700 (official report of Israel) to 3500 people. The report by the International Red Cross put the figure at 2,400.


Until this day, no one has been charged for such a gross crime against humanity, conducted in the clear view of the Israeli army.


Triggered by the September 11th 2001 attack, the US has launched the war against terrorism.

Under the pretext of fighting terror, two countries, Afghanistan and Iraq became the target of American military might.


Compare this to the reaction of the US and the world on the massacre of Sabra and Shatilla on 16th September, 2003. The victims were supposed to be under the protection of an international peacekeeping force, through a security arrangement mediated by the US. Yet they were mercilessly murdered in cold blood.


No actions nor no condemnations were forthcoming from The United Nations. Islamic countries despite of the presence of OIC failed to address the tragedy. The victims of Sabra and Shatila were forgotten, just like the countless other tragedies the Palestinians have endured since 1948.


Hj. Ridzuan Harun
Senior Fellow Researcher
PACE
Palestine Centre of Excellence